Kolom Berita Dan Artikel

Walau masih undercontruxion, namun kami coba semaksimal mungkin untuk mempercepat pembangunan web iniselamat nikmati berita dan artikel - artikel yang kami dapat dari web web tetangga ataupun tulisan asli dari redaksi kami.

Bayi-bayi Tak Berbentuk Pasca Hujan Bom di Fallujah





Akibat invasi Amerika Serikat ke Iraq, banyak bayi lahir cacat. PBB tak mau tahu

Hidayatullah.com--Fatimah hanya bisa diam dan tergolek di tempat tidurnya. Hanya sesekali saja tangan dan jemarinya bergerak, meraba-raba. Setelah itu, tinggal nafasnya yang naik turun.

Keadaan menyedihkan itu sudah lama ia alami. Sejak Fatimah hadir di dunia, beberapa kelainan fisik sudah ia derita. Di samping buta, anak balita ini terlahir dengan dua kepala. Sebab itu, terlihat kepala gadis ini lebih besar daripada badannya.

Pada satu malam, seperti biasanya, sang ibu membaringkan Fatimah di tempat tidurnya. Pada pukul 11 malam, tiba-tiba dia terjaga dan melihat putrinya kesulitan bernafas. Meskipun tidak menghendaki, dalam hatinya dia berpikir bahwa sepertinya buah hatinya tak akan lama hidup.

Si ibu yang bernama Sukhriya ini berusaha sekuat tenaga memberikan pertolongan. Sedangkan suaminya, Ahmad, memahami apa yang sedang terjadi. Ia pegang tangan putrinya itu, ia merasakan bahwa tangan mungil itu sudah dingin. “Ia sudah pergi,” ucapnya lirih, dikutip dari Sky News September 2009 lalu.

Yang dialami Laila Umar Wasim tidak kalah menyedihkan. Sebagaimana dilansir oleh Islam Online, ibu berumur 36 tahun itu telah kehilangan dua bayinya. Bayi pertamanya tanpa kaki dan langsung meninggal, sedangkan bayi keduanya dijemput maut Februari 2009 lalu, disebabkan syaraf tulang belakangnya terbuka dan kepalanya terlalu besar.

Yang dialami Laila, juga menimpa Haifa Syukur. Wanita yang juga tinggal di Fallujah ini telah kehilangan dua bayinya. Keduanya mengalami kerusakan otak sejak lahir. Wanita ini harus menanggung biaya pengobatan sendirian, karena suaminya ditangkap pasukan Amerika sejak November 2004. IPS melansir kisah Haifa ini pertengahan Desember 2009.

Masih di Fallujah, di sini pula lahir Tiba Aftan, seorang gadis dengan benjolan besar di atas matanya. Daging itu terus tumbuh dan menutupi mata kirinya, seiring dengan bertambahnya usia. Walau dengan biaya mahal, orang tuanya membawanya ke Yordan untuk berobat. Dan memang kondisi gadis itu lebih baik, pasca operasi di Yordan. Hanya saja, Tiba masih membutuhkan beberapa operasi lanjutan dan untuk itu memerlukan biaya besar.

Sukhriya, Laila, dan Haifa hanyalah tiga dari sekian ratus ibu Fallujah yang telah kehilangan buah hati mereka. Sedangkan Fatimah dan Tiba Aftan hanyalah dua dari ratusan anak-anak Fallujah yang mengalami kelainan fisik. Di antara mereka ada yang wafat dalam keadaan lahir prematur, ada pula yang bertahan beberapa hari setelah dilahirkan walau akhirnya meninggal, serta ada pula yang tetap hidup sekalipun tubuh cacat.

Di rumah sakit Fallujah, kasus bayi yang meninggal pada usia tujuh hari pertama mencapai 24 persen, dari 170 kasus kelahiran. Pada jumlah kasus yang sama, yang meninggal dalam keadaan cacat mencapai 75 persen. Peningkatan tidak hanya terjadi pada kasus kematian bayi, tetapi terjadi pula pada kasus kelahiran prematur.

Jumlah itu sangat berbeda jauh pada Agustus 2002, enam bulan sebelum invasi Amerika terhadap Iraq. Dari 530 kelahiran yang ditangani, jumlah kematian dalam tujuh hari pertama kelahiran hanyalah enam kasus, dengan satu kelahiran cacat.

Kalau di belahan dunia lain para ibu yang baru saja melakukan persalinan biasanya bertanya kepada dokternya, “Bayi saya laki-laki atau perempuan?” Maka di Fallujah para ibu bertanya, “Bayi saya cacat atau tidak?”

Hal itulah yang menyebabkan para wanita di Fallujah takut hamil, karena mereka khawatir jika kelak melahirkan bayinya cacat. Itu sebagaimana terbukti pada kelahiran akhir-akhir ini. Banyak bayi lahir tanpa kepala, berkepala dua, hanya memiliki satu mata tepat di tengah kening, ada organ tubuh yang berada di luar badan, atau anggota badannya yang tidak lengkap.

Menyangkal Fakta

Kecurigaan bahwa kelahiran-kelahiran janggal tersebut disebabkan oleh penggunaan senjata yang mengandung phospor putih dan DU, merupakan hal yang masuk akal. Fallujah pada 2004, sejak April hingga November, digempur habis-habisan oleh Amerika, dengan menggunakan senjata yang dikenal mengandung DU. Saat itu, Fallujah merupakan wilayah Sunni yang amat konsisten melakukan perlawanan terhadap pendudukan Amerika.

Dr Chris Burns-Cox, dokter di sebuah rumah sakit Inggris, pernah menanyakan kasus-kasus “ganjil” kelahiran bayi-bayi Fallujah itu kepada salah seorang anggota parlemen Inggris, Clare Short. Oleh Clare, pertanyaan itu kemudian diteruskan kepada Douglas Alexander di Kementerian Pembangunan Internasional. Pada 3 September 2009, surat itu dibalas oleh Wakil Menteri di instansi itu, Gareth Thomas. Dia menyangkal adanya bayi-bayi malang itu.

Jawaban Gareth Thomas itu sangat berbeda jauh dari kesaksian seorang penggali kubur di sebuah pemakaman di Fallujah. Penggali kubur itu mengatakan bahwa ia menguburkan 4-5 bayi dalam sehari, kebanyakan cacat.

Respon negatif dari Inggris mendorong beberapa aktivis HAM Iraq, seperti Dr Nawal Majeed Al-Sammarai, dan juga Menteri Urusan Wanita Irak periode 2006-2009, bersama dengan enam orang rekannya mengirimkan sebuah surat pada 12 Oktober 2009 yang ditujukan kepada PBB. Dalam suratnya yang ditujukan kepada Dr Ali Abdussalam Treki, President Sesi Ke-64 Dewan Umum PBB, mereka menggambarkan keadaan bayi-bayi Fallujah yang lahir cacat.

Mereka meminta agar PBB mengakui bahwa kelahiran bayi-bayi cacat di Iraq adalah sebuah fakta yang tidak bisa ditolak. Selanjutnya mereka memohon agar PBB membentuk badan independen yang bertugas menyelidiki kasus ini. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga meminta agar PBB melakukan operasi pembersihan wilayah Iraq dari bahan-bahan berbahaya yang digunakan penjajah, seperti pospor putih dan DU.

Permintaan itu masuk akal, sebab selama masa invasi di Iraq, Amerika sudah menggunakan 1.200 ton lebih amunisi yang mengandung DU. Namun, permohonan tinggallah permohonan, hingga kini belum terlihat tindakan nyata dari PBB merespon surat para aktivis HAM Iraq di atas.[dija/tho/www.hidayatullah.com]